OTOExpo.com –  Sepeda motor matik berbeda sistem kerjanya dengan motor manual. Pada motor matik terdapat CVT yang menjadi penggerak motor tersebut.

Dengan sistem tersebut motor dapat melakukan perpindahan kecepatan secara full otomtis sesuai dengan putaran mesin.

Didalam CVT terdapat dua buah pulley depan dan belakang yang dihubungkan dengan sebuah V-belt.

Pada pulley depan berhubungan dengan kruk as atau poros engkol, sedangkan pulley belakang berhubungan dengan final gear yang  langsung ke roda belakang.

Motor Matik Loncat-loncat, Perika Karet Kopling Pada CVT

Kedua pulley tersebut dapat melebar dan mengecil sehingga akan mendesak sabuk kearah luar. Adapun melebar dan mengecilnya pulley belakang tergantung tarikan dari pulley depan.

Cara Kerja

Bila mesin berputar pada putaran rendah, daya putar dari poros engkol diteruskan ke pulley depan  menuju v-belt menuju pulley belakang dan kopling centrifugal. Apabila tenaga putar belum mencukupi, kopling centrifugal tidak akan mengembang.

Dikutip dari teknikotomotif, Tidak mengembangkan dikarenakan gaya tarik per pada kopling masih lebih kuat dari gaya centrifugal, sehingga kopling centrifugal tidak menyentuh rumah kopling. Mengakibatkan roda belakang juga tidak berputar.

Pada saat putaran mesin bertambah, maka gaya centrifugal akan bertambah kuat dibandingkan dengan tarikan per yang sehingga mengakibatkan sepatu kopling mulai menyentuh rumah kopling dan mulai terjadi tenaga gesek.

Pada kondisi ini, v-belt dibagian pulley depan pada posisi diameter dalam “kecil” dan dibagian pulley belakang pada posisi luar “besar” sehingga menghasilkan putaran / torsi yang besar menyebabkan roda belakang mudah berputar.

Putaran menengah pada saat putaran bertambah, pemberat pada pulley depan mulai bergerak keluar karena gaya centrifugal dan menekan primary sliding sheave “piringan pulley yang dapat bergeser” kearah fixed sheave “piringan pulley yang diam” dan menekan v-belt kelingkaran luar dari pulley primary sehingga menjadi diameter pulley primary membesar dan menarik pulley secondary ke diameter yang lebih kecil.

Sistem Kerja CVT Di Motor Matik

Pada putaran tinggi, jika putaran mesin lebih tinggi lagi dibandingkan putaran menengah maka gaya keluar pusat dari pemberat semakin bertambah. Sehingga semakin menekan v-belt ke bagian sisi luar dari pulley primary “diameter membesar” dan diameter pulley secondary semakin mengecil.

Yang selanjutnya akan menghasilkan perbandingan putaran yang semakin tinggi, jika piringan pulley secondary semakin melebar, maka diameter v-belt pada pulley semakin kecil, sehingga menghasilkan perbandingan putaran yang semakin meningkat.

Efek Per CVT Keras

Per CVT sendiri berfungsi untuk menekan plat bagian dalam supaya secondary sliding sheave merapat dan posisi CVT Belt ada pada bagian atas pada saat motor idle.

Sehingga ketika motor mendapat putaran tenaga dari Pulley, CVT Belt pada bagian sliding sheave ajan turun posisinya kebawah untuk menghasilkan putaran top speed.

Per CVT Racing yang ada dipasaran tersedia dalam berbagai ukuran didasarkan atas tingkat kekerasan per dimana pada umumnya dibagi kedalam 1000 rpm, 1500 rpm, dan juga 2000 rpm.

Per CVT yang terlalu keras dapat membuat drive belt jauh lebih cepat aus karena belt tidak mampu menekan dan membukan driven pulley, belt semakin lama akan terkikis karena panas dan gerakan berputar pada driven pulley dan bisa bikin tarikan jadi berat dan ngempos.

Tiap ukuran per CVT dapat digunakan untuk berbagai keperluan yang berbeda. Misalnya :
  • 1000 rpm untuk kebutuhan harian dengan peningkatan minimum,
  • 1500 rpm dipergunakan untuk keperluan bore-up harian dengan peningkatan yang signifikan
  • 2000 rpm dikhususkan untuk keperluan bore-up extreme.

Motor Matik Loncat-loncat, Perika Karet Kopling Pada CVT

 

Baca Juga

Yamaha Aerox 155 Tambah Akselerasi Dengan Biaya Minim

 

Sumber : teknikotomotif.co.id

Spread The Love

Leave a Reply

Your email address will not be published.