Bukan Sekadar SUV Listrik! iCAR V23 Bongkar Konsep Plug & Play yang Bikin Mobil Jadi “Kanvas” Pengguna
- account_circle Abimanyu
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ragam Personalisasi Kreatif Lewat Konsep Plug & Play di iCAR V23
OTOExpo.com , Jakarta – Tren personalisasi kendaraan mulai bergeser dari sekadar kosmetik ke arah yang lebih teknis dan terintegrasi. Di titik inilah iCAR Indonesia mencoba menawarkan pendekatan berbeda lewat iCAR V23—SUV listrik bergaya boxy yang tak hanya menjual desain, tapi juga fleksibilitas berbasis arsitektur.
Mengusung filosofi “Born to Play”, iCAR V23 sejak awal memang tidak diposisikan sebagai kendaraan statis. Justru sebaliknya, mobil ini dirancang sebagai platform modular yang bisa “diutak-atik” sesuai kebutuhan pengguna tanpa harus masuk ke ranah modifikasi konvensional yang rumit.
Secara teknis, pendekatan ini diwujudkan melalui lebih dari 20 titik modular interface yang tersebar di interior hingga eksterior. Setiap titik sudah dilengkapi mounting system yang dirancang sejak tahap engineering, bukan tambahan aftermarket.
Artinya, pengguna bisa memasang atau melepas aksesori tanpa harus mengubah struktur bodi atau sistem kelistrikan sebuah klaim yang terdengar menarik, tapi juga menimbulkan pertanyaan soal durabilitas jangka panjang.
“Personalisasi bukan lagi sekadar aksesori, tapi sudah menjadi bagian dari DNA kendaraan,” ujar Tommy Hermansyah, Product Planning Manager iCAR Indonesia.
Masuk ke kabin, fleksibilitas ini terasa cukup agresif. Pengguna bisa memasang ambient lighting dengan berbagai skema warna, termasuk opsi starry ceiling yang biasanya hanya ditemukan di mobil premium. Ada juga bracket multifungsi di dashboard dan plafon yang bisa digunakan untuk tablet, action camera, hingga perangkat tambahan lain.
Namun, di sinilah muncul sisi kritisnya. Banyaknya titik modular memang membuka peluang eksplorasi, tetapi juga berpotensi menciptakan distraksi saat berkendara jika tidak digunakan secara bijak. Penempatan gadget tambahan, misalnya, bisa mengganggu visibilitas atau fokus pengemudi jika tidak dirancang dengan ergonomi yang tepat.
Fitur lain yang cukup menarik adalah konfigurasi kabin fleksibel. Kursi dapat diubah menjadi mode tidur tanpa modifikasi permanen, lengkap dengan tambahan small tabletop dan storage modular. Ini menjadikan V23 relevan untuk kebutuhan lifestyle seperti camping atau perjalanan jarak jauh.
Di bagian belakang, konsep modular berlanjut dengan adanya attachment tambahan seperti “backpack” eksternal dan sistem penyimpanan berbasis dinding di bagasi. Secara konsep, ini mirip pendekatan kendaraan overlanding, tetapi dikemas dalam format urban EV.
Sementara itu di eksterior, opsi personalisasi mencakup roof spotlight, roof rack modular, hingga wrapping bodi. Lagi-lagi, semuanya berbasis plug & play tanpa perlu instalasi kompleks. Secara teori, ini menurunkan barrier bagi pengguna yang ingin tampil beda tanpa harus ke bengkel modifikasi.

Ragam Personalisasi Kreatif Lewat Konsep Plug & Play di iCAR V23
Namun, ada satu hal yang masih menjadi tanda tanya: seberapa luas ekosistem aksesori yang tersedia? Tanpa dukungan aftermarket yang kuat atau katalog resmi yang berkembang, konsep modular seperti ini berisiko hanya menjadi gimmick awal tanpa keberlanjutan.
Di tengah gempuran SUV listrik yang fokus pada performa dan jarak tempuh, iCAR V23 mengambil jalur berbeda—menjual pengalaman dan ekspresi. Pendekatan ini jelas menyasar generasi muda yang melihat kendaraan bukan hanya alat transportasi, tapi bagian dari identitas.
Meski begitu, keberhasilan konsep plug & play ini tetap bergantung pada eksekusi jangka panjang: kualitas mounting, keamanan instalasi, serta konsistensi ekosistem aksesori. Tanpa itu, “Born to Play” bisa berubah menjadi sekadar jargon marketing.
iCAR V23 memang menawarkan sesuatu yang segar. Tapi di dunia otomotif, ide menarik saja tidak cukup—yang menentukan adalah bagaimana ide itu bertahan di penggunaan nyata.***
- Penulis: Abimanyu
- Editor: RM.Dimas Wirawan

Saat ini belum ada komentar